telunjuk yang aku luruskan pada setiap rana, tak mampu menyingkap mendung tebal di langit ruh.. ruh yang sakit ini terus menjerit..sendang biru tempat Jibril memadu rindu tak pernah sambang di tiap latah sambung diri..di sendang itu Jibril bermain.. tapi ruh ini menghijab dengan main-main.. Jibril tertawa Rindu, sedang aku tertawa dalam nafsu.. maka apa yang aku pantaskan?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s