Dari data dan fakta di lapangan, muncul simpulan umum bahwa situs Sunan Giri (SG), Sunan Drajat (SD), Sunan Sendang DUwur (SSD), dan Sunan Bonang (SB) merupakan situs hasil asimilatif dari pengaruh budaya Hindu. Dasarnya, situs-situs tersebut bnyak mempunyak kesamaan dengan situs Hindu di Candi PAnataran dan candi-candi Hindu lainnya. Penamaan artefak budaya dan beberapa tempat di situs-situs sunan tersebut juga merupaka asimilatif dan aetefak budaya dan nama-nama Hindu; seperti nama Prapen (lokasi Sunan Prapen –putra Sunan Giri- tinggal), unsure Lingga (artefak candi Hindu yang melambangkan Dewa Kama pada situs Sunan Bonang).
Kajian dalam penelitian ini tidak diarahkan pada pemerian kesamaan perwujudan artefak budaya antara situs Islam dengan situs Hindu. Pembahasan dalam tulisan ini lebih difokuskan pada upaya mencari jawaban mengapa terjadi asimilasi budaya antara Islam dan Hindu? Mengapa masyarakat abad 15-16 begitu intes perhatiannya terhadap nuansa estetis. Upaya mencari jawab tersebut didasarkan pada kerangka teori tentang budaya dan sastra yang dipahami penulis.
Kata sinkritisme sebenarnya berarti pencampuran antara Islam dengan unsure lokan atau unsur agama lain dalam cara yang tidak genuine dan sedikit dipaksakan. “Sinkritisme” dapat diartikan ejekan bahwa Islam tidak lagi murni, karena sudah bercampur dengan unsure budaya atau agama lain. Dalam tulisan ini, kata sinkritisme selanjutnya akan diganti dengan kata persamaan, karena terasa lebih arif dan tidak terkesan negative.
Namun, dalam studi lain yang lebih modern terutama bersandar pada Postmodernisme memandang sinkritisme dengan lebih halus dan bijak. Akbar S Ahmed (dalam Islam dan Postmodernisme), menunjukkan hubungan Islam dengan kebudayaan setempat tidak lagi dianggap sebagai kekalahan dan pengrusakan substansi Islam, tetapi dianggap sebagau pengayaan keragaman dalam ekspresi Islam. Islam menurut Ahmed merupakan unsure yang universal, tetapi juga sangat akomodatif.
Persamaan situs Islam dengan situs Hindu dalam pernyataan di atas, terefleksi dari struktur kompleks bangunan situs. Menurut Kasdi (2001) candi Panataran dan situs Hindu lainnya, mempunyai persamaan struktur dengan situs-situs Islam Pasisiran. Persamaan tersebut nampak pada pola struktur bangunan yang terdiri dari tiga bagian, yaitu; 1) tempat pemujaan atau tempat ibadah (pura atau masjid), 2) makan atau kuburan pemeluk agama, 3) makan atau persemayaman tokoh yang memegang peran dan kekuasaan penting dimasanya (sunan atau raja), 4) dipilihnya gunung atau tempat tertinggi sebagai tempat situs, 5) persamaan relief dan symbol-simbol keagamaan dalam situs.
0